«

»

Feb 05

Komunikasi Interaksi Edukatif dalam Proses Pembelajaran Ilmu Pengetahuan

Komunikasi Interaksi Edukatif dalam Proses Pembelajaran Ilmu Pengetahuan

Oleh : Sigit Suryono, S.Pd, M.Pd

 Berpikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Gerak pemikiran ini dalam kegiatannya mempergunakan lambang-lambang yang merupakan abstraksi dari obyek yang sedang kita pikirkan.

Bahasa merupakan salah satu lambang tersebut dimana obyek-obyek kehidupan yang kongkrit dinyatakan dengan kata-kata. Dapat dibayangkan betapa sukarnya proses berpikir tersebut tanpa adanya lambang-lambang yang mengabtraksikan berbagai gejala kehidupan. Matematika merupakan serangkaian lambang yang ada pada hakekatnya mempunyai fungsi yang sama dengan bahasa. Sejak seorang bayi mulai bisa berkata-kata orang tuanya mulai mengajarkan bahasa, dan setelah anak itu cukup usia maka mulailah dia diajarkan berhitung. Yang pertama merupakan bahasa verbal dan yang kedua merupakan bahasa yang mempergunakan angka. Mempergunakan kedua bahasa itulah dia mulai berkomunikasi dengan lingkungannya.

Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir, dan merupakan salah satu sendi-sendi peradaban di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya.

Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan ” barangkali ” keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.

Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek.

Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma’rifah). Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti, Mutahhari dengan bukunya “Syinakht”, Muhammad Baqir Shadr dengan “Falsafatuna”-nya, Jawad Amuli dengan “Nadzariyyah al Ma’rifah”-nya dan Ja’far Subhani dengan “Nadzariyyah al Ma’rifah”-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka ‘barat’ sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya.

Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.

 

Mungkinkah Manusia itu Mempunyai Ilmu Pengetahuan ?

Masalah epistemologis yang sejak dahulu dan juga sekarang menjadi bahan kajian adalah, apakah berpengetahuan itu mungkin ? Apakah dunia (baca: realita) bisa diketahui ? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Tetapi terdapat beberapa orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan. Misalnya, bapak kaum sophis, Georgias, pernah dikutip darinya sebuah ungkapan berikut, “Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan.”

Mereka mempunyai beberapa alasan yang cukup kuat ketika berpendapat bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak ada atau tidak dapat dipercaya. Pyrrho salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa. Mereka mengatakan satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya ? Demikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat dipercaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya.

Pyrrho ketika berdalil bahwa pengetahuan tidak mungkin karena kasalahan-kesalahan yang indra dan akal, sebenarnya, ia telah mengetahui (baca: meyakini) bahwa pengetahuan tidak mungkin. Dan itu merupakan pengetahuan. Itu pertama. Kedua, ketika ia mengatakan bahwa indra dan akal seringkali bersalah, atau katakan, selalu bersalah, berarti ia mengetahui bahwa indra dan akal itu salah. Dan itu adalah pengetahuan juga.

Alasan yang dikemukakan oleh Pyrrho tidak sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak mungkin. Alasan itu hanya dapat membuktikan bahwa ada kesalahan dalam akal dan indra tetapi tidak semua pengetahuan lewat keduanya salah. Oleh karena itu mesti ada cara agar akal dan indra tidak bersalah.

Menurut Ibnu Sina, ada cara lain yang lebih efektif untuk menghadapi mereka, yaitu pukullah mereka. Kalau dia merasakan kesakitan berarti mereka mengetahui adanya sakit (akhir dawa’ kay).

Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup berjasa dalam membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya adalah indra dan akal. Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberikan hal yang pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpikir. Ungkapannya yang populer dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya adalah ” Saya berpikir (baca : ragu-ragu), maka saya ada “.

Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme kategoris bentuk pertama, namun tanpa menyebutkan premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir ada, maka saya ada.

Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap realita, namun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan tashawwuf. Perkataannya yang populer adalah ” Keraguan adalah kendaraan yang mengantarkan seseorang ke keyakinan “.

 

Sumber Dan Alat Ilmu Pengetahuan.

Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi adalah masalah yang berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausalitas bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidental-baik menurut teori recolection-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan filsafat-materialisnya kaum empiris dan pasti mempunyai sebab atau sumber. Tentu yang dianggap sebagai sumber pengetahuan itu beragam dan berbeda sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pemikiran manusia. Selain pengetahuan itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika hendak mengadakan kontak dengan sumber-sumber itu, maka dia menggunakan alat.

Para filusuf menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu :

1. Alam tabi’at atau alam fisik

Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (al hiss), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, sepert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam tabi’at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang “barangkali” paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi’at.

Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi’at. Disebutkan bahwa, barang siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis. Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal.

 

2. Alam Akal

Kaum Rasionalis, selain alam tabi’at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akallah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada.

3. Analogi (Tamtsil)

Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu.

Analogi tersusun dari beberapa unsur; (1) asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya. (2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya, (3) titik kesamaan antara asal dan cabang dan (4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal.

4. Hati dan Ilham

Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.

Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.

 

Syarat dan Penghalang Pengetahuan.

Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya.

Oleh karena itu ada beberapa prasyarat untuk memiliki pengetahuan, yaitu :

1. Konsentrasi

Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya.

2. Akal yang sehat

Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak benar.

3. Indra yang sehat

Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya.

 

Dengan apakah ilmu pengetahuan dapat di sebar luaskan ?

Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah disebut dengan ilmu. Dengan ilmu dapat memperlajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan dengan obyek yang ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris. Ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai obyek empiris; asumsi pertama menganggap obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Asumsi yang kedua adalah anggapan bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah-laku suatu obyek dalam suatu keadaan tertentu. Determinisme merupakan asumsi ilmu yang ketiga (kita menganggap bahwa tiap gejala itu bukan merupakan sesuatu yang secara kebetulan).

Dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan harus dilakukan dengan melalui suatu pendidikan (edukatif). Pendidikan atau disempitkan dalam pengertian pengajaran, adalah satu usaha yang bersifat sadar- tujuan, yang dengan sistematik terarah pada perubahan tingkah laku kepada anak didik, karena adanya peningkatan kemampuan ilmiahnya. Perubahan yang dimaksud itu menunjuk pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses itu perubahan tidak mungkin terjadi dan tercapai. Proses yang dimaksud adalah proses pendidikan.

Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan atau tujuan, pengajaran merupakan proses yang membimbing pelajar akan pengetahuan di dalam kehidupan, yakni membimbing mengembangkan diri dengan penyampaian ilmu pengetahuan. Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normatif karena pendidikan pada hakekatnya memang adalah satu peristiwa yang mempunyai aspek normatif. Artinya bahwa dalam peristiwa pendidikan, pendidikan dan anak didik berpegang pada ukuran, norma atau nilai yang diyakini baik. Agama, falsafah hidup, pandangan terhadap individu dan masyarakat, kesusilaan, semuanya adalah sumber-sumber norma dalam pendidikan.

Akan tetapi selain dari perumusan normatif, pendidikan dapat pula dirumuskan sebagai sebuah proses teknik, yakni apabila yang terutama dilihat ialah peristiwa itu sebagai satu peristiwa kejadian. Sebagai sebuah kegiatan praktis yang berlangsung dalam satu masa, dan terikat dalam satu situasi, serta terarah pada satu tujuan, pendidikan adalah satu rangkaian yang kompleks. Peristiwa tersebut adalah satu rangkaian komunikasi antara manusia, rangkaian kegiatan mempengaruhi.

 

Komunikasi interaksi-edukatif dalam Proses Pembelajaran

Istilah komunikasi merupakan suatu transaksi pengertian/ pemahaman antara dua individu atau lebih. Proses komunikasi terjadi bila ada sumber yang memberikan pesan, dan ada penerima pesan. Pada umumnya dalam proses komunikasi dibutuhkan media, yang merupakan wadah yang dapat menyalurkan pesan (message) yang oleh sumber atau pemberi pesah ingin diteruskan atau disampaikan kepada penerima pesan tersebut.

Proses komunikasi yang terjadi dalam suatu kegiatan berajar mengajar bisa terjadi antara guru dan murid, antara murid dengan murid. Selain itu dalam kegiatan belajar mengajar, proses komunikasi juga bisa terjadi antara murid, atau warga belajar dengan sumber yang lain dari guru, misalnya pesan pembelajaran atau materi ilmu pengetahuan. Komunikasi dalam suatu kegiatan belajar mengajar merupakan suatu komunikasi timbal-balik, atau komunikasi interaksi edukatif, yang bukan terjadi dengan sendirinya, akan tetapi harus diciptakan oleh guru dan murid. Komunikasi tersebut harus diciptakan sedemikian rupa sehingga pesan yang disampaikan  dalam bentuk materi pembelajaran dapat benar-benar efektif dan efisien.

Proses komunikasi interaksi edukatif merupakan suatu transaksi pengertian/ pemahaman ilmu pengetahuan. Transaksi pengertian ini dalam bentuk-bentuk lambang (signals) yang mengandung arti. Lambang-lambang atau signals dapat di capai dengan indra baik dilihat, didengar, atau gabungan keduanya, yaitu dilihat dan didengar. Bahkan pada situasi dan kondisi tertentu pengoperan lambang itu dapat dilakukan melalui indra sentuhan/raba ataupun indra penciuman, misalnya kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan luar biasa. Karena dalam memahami ilmu pengetahuan faktor indra dan akal sangat berpengaruh dalam membentuk kesan pada siswa maka bentuk – bentuk pesan yang digunakan dalam pembelajaran hasus inovatif, menarik.

Agar pesan pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dapat menarik, dan inovatig maka dibutuhkan media yang digunakan untuk menghantarkan pesan pembelajaran kepada murid. Media digunakan untuk mengurangi nois / hambatan untuk mengetahui/memahi ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh guru karena adanya keterbatasan indra manusia. Media pembelajaran dapat berupa media audio, media visual, ataupun gabungan media audio-visual. Media pendidikan termasuk penerapan teknologi pendidikan yang digunakan untuk melancarkan komunikasi interaktif edukatif.

Kata atau istilah teknologi tidak asing lagi bagi telinga setiap anggota masayarakat masa kini. Teknologi berarti penerapan ilmu pengetahuan secara praktis (Technology is the application of science ti practice). Menurut Settler(Barbara.1994:7) teknologi memfokuskan pada perbaikan ketrampilan dan organisasi kerja daripada peralatan dan mesin. Teknologi modern dideskripsikan sebagai pengetahuan praksis sistematis yang meningkatkan produktivitas.

Teknologi pembelajaran merupakan penerapan ilmu pengetahuan ilmiah tentang belajar manusia pada tugas-tugas praktis pengajaran dan belajar. Teknologi pembalajaran sering di definisikan sebagai penerapan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah, sebuah pandangan yang didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak terpisah.

Dalam proses komunikasi interaktif edukatif peran teknologi pendidikan sangat besar, baik dari segi penyampaian pesan pembelajaran, pengelolaan pembelajaran, dalam penyamaan persepsi siswa sehingga akan memudahkan penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa sehingga pada akhirnya semakin baik proses komunikasi interaksi edukatif maka akan semakin baik pula proses penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa.

Kesimpulan

Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah disebut dengan ilmu. Dengan ilmu dapat memperlajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam penyebarluasan ilmu pengetahuan dilakukan secara sistematis lewat pendidikan. Agar proses penyebaran ilmu pengetahuan berlangsung lebih baik maka proses penyampaian pesan berupa signals atau lambang-lambang ilmu dilakukan dengan media pembelajaran agar terjadi proses komunikasi interaksi edukatif yang baik.

 

Sumber Bacaan :

John. D. Latuheru.1988. Media Pembelajaran dalam Proses Belajar-Mengajar Masa Kini. Jakarta : Depdikbud

Jujun S. Suriasumantri.1984. Ilmu dalam Prespektif. Jakarta : Gramedia

Seels, Barbara B & Richey, Rita C.1994. Instructional Technology. Woshington,DC : AETC

Winarno Surakhmad.1982. Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung : Tarsito

http://aljawad.tripod.com/artikel/filsafat_ilmu.htm (Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah  Filsafat Islam  di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>